Sejarah Berdirinya Keraton Kasepuhan dan Cirebon
Keraton Kasepuhan pertama berdiri pada tahun
1430 yang membangun adalah Putra Mahkota Prabu Siliwangi yang berasal dari
Kerajaan Pajajaran yang bernama Raden Walangsungsang yang bergelar Pangeran Cakrabuana
keratonnya disebut dengan Keraton Pakungwati. Pakungwati berasal dari bahasa
Sansakerta pakung artinya bagus atau
baik sedangkan wati artinya perempuan.
Mengapa dinamakan Pakungwati sebab mengambil nama dari nama anak Pangeran
Cakrbuana.
Pada saat itu, Cirebon masih dibawah wilayah
Kerajaan Pajajaran yang wilayahnya meliputi Brebes hingga Junti Indramayu. Pada
saat itu Pangeran Cakrabuana diangkat menjadi penguasa atau raja di Cirebon
yang lebih dikenal dengan Mbah Kuwu Cirebon. Ratu Ayu Pakungwati yang merupakan
anak dari Pangeran Cakrabuana dinikahkan dengan sepupunya yanng bernama Syeh
Syarif Hidayutullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati yang merupakan
putra dari Ratu Raransantang.
Pada tahun 1479 Pangeran Cakrabuana
menyerahkan Cirebon kepada Sunan Gunung Jati kepada keponakan sekaligus
menantu. Pada masa kepemimpinan Sunan Gunung Jati Cirebon berada pada masa
kejayaan pada masa keemasaan. Yang pada awalnya hanya wilayah Brebes hingga
Junti Indramayu pada masa itu Cirebon menguasai wilayah separuh Jawa. Cirebon
dikenal dengan “Grage” yang artinya negara gede (negara besar), sedangan
Caruban atau Cairebon yang berarti atau cai (air) rebon (udang kecil). Caruban
merupakan arti campuran yang dulunya adalah pelabuhan internasional yang
merupakan multi etnis yang datang sehinnga dikenal dengan Caruban Nagari,
sehingga adat istiadat budaya hingga bahasa mengikutinya.
Pada tanggal 2 April tahun 1482 yang didukung
oleh sembilan wali khusunya Demak, Caruban menyatakan sebagai negara yang
mandiri. Yang pusat pemerintahannya berada di pedaleman Pakungwati. Dan pada
saat itu Syeh Syarif Hidayatullah diangkat menjadi Temenggung Cirebon dan Sunan
Cirebon, dengan begitu Cirebon menjadi Negara. Dan pada saat itu dibentuk
struktur pemerintahan, yang dikenal dengan Jaksa Pepitu. Adapun strukturnya
sebagai berikut.
·
Penasehat Utama : Pangeran Cakrabuana
·
Dewan :
Ø Bagian
Hukum : Syeh Syarif Abdurahman dan Abdurahim yang dikenal dengan Pangeran
Panjunan Pangeran Kejaksan.
·
Pasukan :
Ø Pasukan
Jaga Bayan (Penjaga dari Bahaya)
Pada masa itu Cirebon didukung sepenuhnya oleh
Demak Bintoro dan Aceh. Cirebon juga dibantu oleh kekolifahan Turki Islami. Kemudian
Cirebon dibuat struktut wilayah. Adapun strukturnya sebagai berikut.
·
Kota Raja (Ibu Kota)
·
Pemukiman lamanya : Panjunan dan Pekalangan
![]() |
Pengelolan pemerintahan Cirebon Sultan tidak
memungut pajak. Sultan memberikan lahan di daerah Kesultanan Cirebon untuk
dikelola dengan baik oleh masyarakat. Sebagai tanda terimakasih Masyarakat
mengadakan hatur bakti (membayar zakat). Kemudian dibuatlah mata uang Dinar dan
Derham. Perteman hatur bakti dilaksanakan setiap kisowan agung, sebra kliwonan,
dan maulud.
Pada tahun 1529 Sunan Gunung Jati memperluas
keraton hinnga ke arah barat daya, keratonnya masih bernama Pakungwati. Tetapi
pada generasi keenam tepatnya pada abad ke tujuh belas atau 1678, terjadi
proses sejarah. Cirebon terbagi menjadi dua kesultanan kakak beradik. Kakanya
bertahta di Keraton Pakungwati yang bergelar Sultan Sepuh yang kemudian
keratonnya disebut Keraton Kasepuhan. Adiknya menempati keraton baru yang
jaraknya hanya 500 meter dari Keraton Kasepuhan, Adiknya bergelar Sultan Anom
yang kemudian keratonnya disebut dengan Keraton Kanoman.
Pada masa ini juga Cirebon mengalami
kemunduran sebab Belanda banyak ikut campur dalam pemerintahan. Untuk berperan
dalam politik “Devida Id Empera” dan Belanda juga membuat bisnis yaitu mencari
rempah-rempah dan membuat pabrik. Yang menimbulkan pergolakan yang dimulai pada
masa kesultanan kasepuhan yang kelima. Dengan serangan yang disebut dengan
Gerilya. Yang di Kanomannya pada masa Anoman yang keempat.
Belanda mengalami kerugian yang besar saat
daerah di Cirebon namanya Perang Kedongdong di daerag Susukan. Yang pejuang nya
berasak dari mana saja. Ini merupakan strategi agar Belanda tidak dapat
menyerah Keraton.
Pada masa itu banyak peninggalan sejarah yang
diberikan kepada pesantren-pesantren sebab jaman dahulu putra-putri bersekolah
di pesantren contohnya Buntet. Yang kemudian banyak dari merak yang menikah
dengan warga pesantren.
Kemudian para raja-raja bersepakat untuk
bersatu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keraton Kasepuhan pertama berdiri pada tahun
1430 yang membangun adalah Putra Mahkota Prabu Siliwangi yang berasal dari
Kerajaan Pajajaran yang bernama Raden Walangsungsang yang bergelar Pangeran Cakrabuana
keratonnya disebut dengan Keraton Pakungwati. Pakungwati berasal dari bahasa
Sansakerta pakung artinya bagus atau
baik sedangkan wati artinya perempuan.
Mengapa dinamakan Pakungwati sebab mengambil nama dari nama anak Pangeran
Cakrbuana.
Pada saat itu, Cirebon masih dibawah wilayah
Kerajaan Pajajaran yang wilayahnya meliputi Brebes hingga Junti Indramayu. Pada
saat itu Pangeran Cakrabuana diangkat menjadi penguasa atau raja di Cirebon
yang lebih dikenal dengan Mbah Kuwu Cirebon. Ratu Ayu Pakungwati yang merupakan
anak dari Pangeran Cakrabuana dinikahkan dengan sepupunya yanng bernama Syeh
Syarif Hidayutullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati yang merupakan
putra dari Ratu Raransantang.
Pada tahun 1479 Pangeran Cakrabuana
menyerahkan Cirebon kepada Sunan Gunung Jati kepada keponakan sekaligus
menantu. Pada masa kepemimpinan Sunan Gunung Jati Cirebon berada pada masa
kejayaan pada masa keemasaan. Yang pada awalnya hanya wilayah Brebes hingga
Junti Indramayu pada masa itu Cirebon menguasai wilayah separuh Jawa. Cirebon
dikenal dengan “Grage” yang artinya negara gede (negara besar), sedangan
Caruban atau Cairebon yang berarti atau cai (air) rebon (udang kecil). Caruban
merupakan arti campuran yang dulunya adalah pelabuhan internasional yang
merupakan multi etnis yang datang sehinnga dikenal dengan Caruban Nagari,
sehingga adat istiadat budaya hingga bahasa mengikutinya.
Pada tanggal 2 April tahun 1482 yang didukung
oleh sembilan wali khusunya Demak, Caruban menyatakan sebagai negara yang
mandiri. Yang pusat pemerintahannya berada di pedaleman Pakungwati. Dan pada
saat itu Syeh Syarif Hidayatullah diangkat menjadi Temenggung Cirebon dan Sunan
Cirebon, dengan begitu Cirebon menjadi Negara. Dan pada saat itu dibentuk
struktur pemerintahan, yang dikenal dengan Jaksa Pepitu. Adapun strukturnya
sebagai berikut.
·
Penasehat Utama : Pangeran Cakrabuana
·
Dewan :
Ø Bagian
Hukum : Syeh Syarif Abdurahman dan Abdurahim yang dikenal dengan Pangeran
Panjunan Pangeran Kejaksan.
·
Pasukan :
Ø Pasukan
Jaga Bayan (Penjaga dari Bahaya)
Pada masa itu Cirebon didukung sepenuhnya oleh
Demak Bintoro dan Aceh. Cirebon juga dibantu oleh kekolifahan Turki Islami. Kemudian
Cirebon dibuat struktut wilayah. Adapun strukturnya sebagai berikut.
·
Kota Raja (Ibu Kota)
·
Pemukiman lamanya : Panjunan dan Pekalangan
Kemudian
terbentuk pasukan babakiasa atau pasukan khusus ekspedisi yang berupa ahli
dalam membabat hutan, ahli dalam pertanian, ahli dalam perairan hingga ahli
dalan pembangunan, yang kemudian terdapat wilayah. Yang bagaimana para
pasukan bagian dari struktur pemerintahan
Cirebon yang ada. Adapun strukturnya sebagai berikut.
|
Pengelolan pemerintahan Cirebon Sultan tidak
memungut pajak. Sultan memberikan lahan di daerah Kesultanan Cirebon untuk
dikelola dengan baik oleh masyarakat. Sebagai tanda terimakasih Masyarakat
mengadakan hatur bakti (membayar zakat). Kemudian dibuatlah mata uang Dinar dan
Derham. Perteman hatur bakti dilaksanakan setiap kisowan agung, sebra kliwonan,
dan maulud.
Pada tahun 1529 Sunan Gunung Jati memperluas
keraton hinnga ke arah barat daya, keratonnya masih bernama Pakungwati. Tetapi
pada generasi keenam tepatnya pada abad ke tujuh belas atau 1678, terjadi
proses sejarah. Cirebon terbagi menjadi dua kesultanan kakak beradik. Kakanya
bertahta di Keraton Pakungwati yang bergelar Sultan Sepuh yang kemudian
keratonnya disebut Keraton Kasepuhan. Adiknya menempati keraton baru yang
jaraknya hanya 500 meter dari Keraton Kasepuhan, Adiknya bergelar Sultan Anom
yang kemudian keratonnya disebut dengan Keraton Kanoman.
Pada masa ini juga Cirebon mengalami
kemunduran sebab Belanda banyak ikut campur dalam pemerintahan. Untuk berperan
dalam politik “Devida Id Empera” dan Belanda juga membuat bisnis yaitu mencari
rempah-rempah dan membuat pabrik. Yang menimbulkan pergolakan yang dimulai pada
masa kesultanan kasepuhan yang kelima. Dengan serangan yang disebut dengan
Gerilya. Yang di Kanomannya pada masa Anoman yang keempat.
Belanda mengalami kerugian yang besar saat
daerah di Cirebon namanya Perang Kedongdong di daerag Susukan. Yang pejuang nya
berasak dari mana saja. Ini merupakan strategi agar Belanda tidak dapat
menyerah Keraton.
Pada masa itu banyak peninggalan sejarah yang
diberikan kepada pesantren-pesantren sebab jaman dahulu putra-putri bersekolah
di pesantren contohnya Buntet. Yang kemudian banyak dari merak yang menikah
dengan warga pesantren.
Kemudian para raja-raja bersepakat untuk
bersatu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sumber : Pemandu Wisata Keraton Kasepuhan Bapak Elang dan Bapak Hafid
Gambar : http://imgcdn.rri.co.id/thumbs/berita_691369_800x600_81.jpg
Sumber : Pemandu Wisata Keraton Kasepuhan Bapak Elang dan Bapak Hafid
Gambar : http://imgcdn.rri.co.id/thumbs/berita_691369_800x600_81.jpg


Komentar
Posting Komentar